Saat
kita masih dalam buaian, dengan bersimbah keringat dan badan
pegal-pegal, ibu bisa berjam-jam menggendong kita hanya agar jerit
tangis terhenti, agar membias senyuman indah di bibir kita. Kala itu,
rasa pegal-pegal di bagian punggungnya atau rasa sakit di pinggang dan
lehernya, sudah tidak dirasakan lagi. Senyuman kita, bagi seorang ibu,
adalah hadiah mahal yang mau dia bayar dengan apapun juga.
Saat
usia sudah mulai menggerogoti kekuatan fisik seorang ibu, teronggaklah
dia menjadi orang tua yang serba pasrah menerima segalanya. Ia hanya
terus berharap, agar segala upayanya selama ini tidak sia-sia. Agar
anaknya bisa hidup berbahagia lebih beruntung dari dirinya. Meski
demikian, tali kasih itu ternyata tidak pernah terputus. Dengan
merangkak pun dia siap, untuk mendatangi kediaman anaknya yang amat
jauh, demi berkesempatan melihat wajah anaknya yang ceria, demi
memastikan bahwa anaknya itu masih baik-baik saja.
Dengan
realitas itu seorang anak harus sedikit tahu diri. Ia sudah sepatutnya
bekerja keras untuk dapat membahagiakan orang tuanya, terutama sang ibu,
sebagaimana ibunya telah berusaha membahagiakannya. Seorang ibu mungkin
tidak pernah mengharapkan apa-apa. Namun lubuk hatinya, teramat
membutuhkan siraman kebahagiaan melalui tawa dan canda.
“Abdulah bin Amru, suatu hari datang menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Ia berkata, ‘Duhai
Rasulullah! Aku sangat ingin berhijrah bersamamu. Namun tadi, aku
meninggalkan kedua orang tuaku dalam keadaan menangis. Apa yang harus
kulakukan’ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, Pulanglah. Buatlah mereka tertawa, sebagaimana engkau telah membuatnya menangis.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam Shahih-nya II: 63, Abu Dawud II: 17, Ibnu Majah II: 930, dan Ahmad I: 160)
Berupayalah
untuk membuat sang ibu tertawa bahagia. Umumnya, pekerjaan itu hanya
membutuhkan secercah keikhlasan. Sepucuk surat yang memuat doa hangat,
sapaan santun dan sedikit basa-basi menceritakan kabar-kabar terkini
sang anak, sudah cukup untuk membuat ibu menyunggingkan senyuman,bahkan
terkadang, memaksanya meneteskan airmata haru.
Berupayalah
untuk membuat sang ibu tertawa berbahagia. Bisa jadi, terkadang kita
harus merelakan biaya cukup besar dikuras dari kantong kita, hanya untuk
bisa berjumpa dengan sang ibu. Bahkan, waktu berjam-jam mungkin malah
berhari-hari, harus kita habiskan di perjalanan menuju kediamannya. Tapi
sadarlah, bahwa kebahagiaan sang ibu adalah kebahagiaan kita juga.
Sebesar apapun biaya itu tetap tak ada nilainya, bila dibandingkan doa
tulus yang keluar dari mulutnya, ‘Mudah-mudahan, kamu murah rezeki.’
Duhg,
dentuman keras seperti membelah jantung, saat kita sadar, bahwa doa itu
keluar dari mulut wanita agung yang bukan lebih berkecukupan
dibandingkan kita, yang selayaknya doa itu diperuntukkan bagi dirinya
sendiri, atau justru keluar dari mulut kita untuk si ibu yang terkasih.
Tapi, tampaknya luapan kasihnya yang tidak terbentung, membuatnya mampu
untuk lebnih enteng mengucapkan doa mulia tersebut, ketimbang kita…
Berupayalah untuk membuat sang ibu tersenyum bahagia. Di hari-hari tua itu mereka akan sangat membutuhkan hiburan kita.
Surat untuk Ibu:Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuhIbunda. Maafkan kami, bila kurang mengisi hari-harimu dengan tawa.Maafkan kami, bila kurang mampu membuatmu berbahagia.Bahkan kamipun tahu, banyak tindakan dan ucapan kami yang telah membuat hatimu terluka. Demi Allah, kami menyesali semuaitu. Tertawalah bunda, agar hari-hari kamipun menjadi semakin ceria..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar